Cinta Itu Masih Utuh Seperti Dulu


Petang itu aku menantinya. Berharap senyuman yang akan dia bawakan untukku malam itu. Tapi ternyata takdir Allah tlah berkehendak lain. 18.11, 20 Mei 2011 kacelakaan menimpanya. Pesan singkat yang dia kirimkan untukku, meminta maaf dan memberi kabar bahwa malam itu dia tak bisa datang untukku dan mengajakku jalan karena dia kecelakaan di Gurah. Aku pun tak langsung percaya dengan semua itu. Masih ku biarkan pesannya, tak ku hiraukan. Hatiku merasa begitu tak tenang. Aku menelfon handphonenya, memang diangkat tapi bukan suaranya di balik telfon itu. Suara orang ribut, kacau, tak ada yang menghiraukan telfonku. Aku terus mencoba untuk menghubunginya. Berulang kali pun tak ada ada jawaban sama sekali. Pikiranku sudah begitu kalut. Aku lemas. Kecelakaan itu benar-benar terjadi, dia tidak sedang bercanda seperti biasanya.
          Aku pun tak hanya tinggal diam. Aku menelfon semua teman-teman yang sekiranya bisa membantuku. Teman-temanku satu kost pun juga ikut membantu, bermaksud mencarikan pinjaman motor untuk aku pakai mencarinya. Bahkan Mira yang awalnya akan jalan dengan seseorang, aku mintai tolong untuk mencarinya juga. Setelah semua teman aku mintai tolong, akhirnya ada satu yang bisa membantuku. 19.05 Lia datang di tempat kostku dan kami berangkat mencarinya.
          Aku dan Lia terlalu buru-buru. Sesampai di suatu tempat keramaian dan kerumunan orang, tanpa berpikir panjang aku langsung menghampirinya. Karena ada polisi di tempat itu jadi aku mengira bahwa itu dia. Tapi ternyata apa yang terjadi. Ach.. polisi lalu lintas menghadang, razia. Kami tertangkap. Lia tidak membawa STNK karena memang sebelum berangkat dia hanya ijin orang tuanya untuk ke warnet saja. Lia tidak berani bilang kepada orang tuanya bahwa tertangkap polisi. Lia malah meminta adiknya untuk mengantarkan STNK itu ke kantor polisi Gurah. Rumah Lia jauh, jadi adiknya itu tidak kunjung datang sampai kantor polisi itu hampir tutup. Aku menghadang polisi yang mambawa kunci motornya Lia karena polisi itu akan segara pulang. Aku tidak terima, polisi itu meminta Aku kembali ke kantor polisi itu besok pagi untuk mengambil motor dan kami disuruh pulang naik bus.
          Bagaimana dengan keadaan kekasihku sekarang? Di kantor polisi itu aku terus mencari informasi tentangnya. Para polisi disana berkata tidak ada kecelakaan sepeda motor, tapi yang ada kecelakaan truk. Sambil aku menunggu adiknya Lia mengantar STNK, aku masih terus menghubungi kekasihku. Ada yang mengangkat telfonku, suara ayahnya dibalik sana. Ayahnya itu mengatakan bahwa kekasihku sekarang sudah dibawa di rumah sakit Pelem Pare dan malam itu juga akan langsung dibawa ke rumah sakit Surabaya karena kakinya patah dan harus segera dioperasi. Aku syok mendengarnya.
          Aku masih di kantor polisi dan benar-benar sudah pulang para polisi itu. Adik Lia datang membawa STNK tapi sudah terlambat. Kami tak tau harus bagaimana, akhirnya Lia memutuskan untuk memberitahu orang tuanya dengan semua resiko bahwa Lia pasti akan dimarahi habis-habisan kerena semua ini. Benar, baru saja mendapat kabar bahwa kami tertangkap polisi, ayahnya Lia langsung marah-marah. Tapi akhirnya ayahnya Lia datang juga dengan saudaranya yang juga polisi. Saudaranya Lia mencari polisi yang sudah pulang membawa kunci motor itu. Entah dimana polisi itu ditemui dan dengan seluruh proses yang panjang akhirnya pukul 21.15 kami dibebaskan.
          Aku diantarkan pulang ke kost. Malam itu aku hanya terus berdoa untuk memohon kepada Allah agar diselamatkan kekasihku itu. Handphonenya sudah tidak aktif. Tak bisa sedetik pun mataku ini terpejam.
          05.00, 21 mei 2011 aku  mencoba menghubunginya kembali tapi tetap saja handphonenya belum aktif. Untungnya aku punya nomor handphone orang tuanya. Memang aku yang menelfonnya, tapi Mira yang bicara dan bertanya pada ayahnya tentang bagaimana keadaanya. Ayahnya bilang bahwa pagi itu pukul 01.30 dini hari mereka sudah sampai di rumah sakit dr. Soetomo Surabaya. Namun operasi baru akan dilakukan pagi itu.
          Dengan rasa hati tak karuan aku bersekolah. Teman-temanku di sekolah banyak yang tidak percaya dengan kejadian semalam yang menimpa kekasihku itu, karena mereka tahu bahwa dia memang suka bercanda. Temanku Selvi juga ku mintai tolong untuk mencarikan informasi dan menanyakan kepada teman-teman kekasihku. Setelah pulang sekolah aku kembali menghubunginya, tetap belum aktif. Aku telfon lagi nomor ayahnya dan kembali Mira yang bertanya. Aku takut mendengar kabarnya. Ayahnya bercerita bahwa operasi kakinya sudah selesai jam 12 siang itu karena benar kedua kakinya patah.
          Hari itu sabtu, aku harus pulang ke rumah. Baru saja aku turun dari motor sampai di rumah, aku mendapatkan telfon dari nomor asing yang belum pernah ku kenal sebelumnya. Aku begitu takut untuk mengangkatnya. Aku tidak siap mendengarkan kabar apapun tentangnya, tapi aku butuh kabar itu. Ku beranikan untuk mengangkat telfon itu. Suaranya. Aku masih belum percaya. Benarkah di balik telfon itu suara kekasihku? Kuperhatikan lagi. Benar aku tidak bermimpi, dia memanggilku. Terimakasih Ya Allah Kau selamatkan dia………. Dalam telfon itu dia berkata padaku bahwa dia tidak apa-apa. Tapi itu tidak mungkin, dia hanya menenangkanku. Tak dapat kebendung lagi air mataku. . . . . . Berulang kali dia berkata padaku agar aku tidak menangis untuknya.
Aku terus menghubunginya, menanyakan kabarnya, keadaannya, menemaninya setiap dia terjaga dari tidurnya, jam berapapun itu aku ada untuknya meski hanya lewat telfon dan pesan singkat. Dia selalu bertanya padaku, apakah aku akan tetap bisa menerimanya walaupun keadaannya seperti itu?
          Senin, 23 Mei 2011. aku kembali bersekolah lagi. Aku menceritakan kejadian itu lagi kepada teman-temanku dan mereka sudah percaya dengan semuanya yang tlah terjadi pada kekasihku. Aku berfikir jika aku terus begini, belum melihatnya tersenyum, rasanya hidupku belum kembali disini. Hari itu juga aku memutuskan untuk pergi menjenguknya esok hari ke Surabaya. Bersama dua temanku aku merencakan keberangkatanku besok. Beberapa temanku membantu mencarikan peta dan alamat rumah sakit itu di internet. Sepulang sekolah aku bersama Iemb ke stasiun Kediri untuk melihat jadwal keberangkatan kereta api jurusan ke Surabaya.

SURABAYA
          06.25, Selasa, 24 Mei 2011 aku sampai di stasiun diantarkan bolak-balik oleh adik kostku, Niswa. 06.47 kereta baru datang dan aku berangkat menuju ke Surabaya bersama iemb dan Heny. Bismillahirrohmainrrohim… Niat kami baik Ya Allah. Maafkan kami tidak bersekolah hari itu. Bahkan keberangkatanku itu tidak diketahui sama sekali oleh kekasihku, karena awalnya aku memang dilarangnya kesana. Biarkan dia tau sendiri cintaku ini padanya.
          Saat dia sms dan bertanya sedang apakah aku saat itu, ku jawab bahwa aku sedang ada di sekolah dan aku membawa handphone agar bisa terus menghubunginya dan mengetahui keadaannya. Tapi maaf, sebenarnya saat itu aku tidak bersekolah dan aku ada di dalam kereta. Aku mendapatkan banyak pelajaran berharga di dalam kerata itu. Aku bertemu orang-orang hebat disana. Seorang bapak mantan tentara yang menceritakan kehidupan dan anak-anaknya yang sangat menakjubkan. Beliau asli orang Gubeng naik kereta dari Blitar mengunjungi putranya yang pertama. Meskipun begitu bapak itu turun di stasiun Wonokromo karena motornya disana. Jadi aku terus mengingat petunjuk arah dari bapak hebat itu. Hingga tak terasa stasiun demi stasiun tlah ku lalui. Aku sampai di Surabaya, stasiun Gubeng yang ku tuju.
          10.20 sampai di stasiun Gubeng. Menurut petunjuk bapak mantan tentara yang kami temui di kereta api tadi, kami harus ke Gubeng baru untuk ke rumah sakitnya. Jadi setelah turun dari kereta kami menuju ke pintu keluar kanan stasiun. Karena terlalu senangnya aku sampai disana, aku lupa petunjuk arah itu, aku berlari menuju pintu kiri stasiun. Kata petugasnya aku salah arah. Aku dan teman-temanku langsung menuju ke pintu kanan. Kami keluar dari stasiun. Kami yang tidak tahu apa-apa disana terus bertanya kepada orang-orang yang kami temui. Semoga mereka tidak menjerumuskan kami dengan arah yang salah.
          Berulang kali bertanya, aku kembali teringat pesan bapak di kereta, kalau dari stasiun lewat Gubeng gang Masjid. Kami mencari gang itu. Bertanya lagi. Masuk gang itu, alhamdulillah… rumah sakitnya sudah terlihat jelas dari situ karena rumah sakit dr. Soetomo itu begitu besar. Aku langsung berlari menuju kesana. Iemb dan Heny kewalahan mengejarku. Padahal aku juga tak tau harus lewat jalan yang mana untuk menuju kesana. Allah mendengarkan doaku, kami bertemu dengan rombongan orang Nganjuk lewat gang itu dan ternyata mereka juga mau menuju ke rumah sakit itu. Aku mengikuti rombongan itu. Kami menyeberang sungai, menyusuri sela-sela rumah penduduk. Begitu sampai di jalan raya, di depan rumah sakit, menyeberang jalan aku kembali berlari.
          10.35 di lokasi rumah sakit. Aku mencari tempat informasi saja harus pindah-pindah tiga gedung. Aku menemukan tempat itu dan langsung bertanya dimana tempat kekasihku dirawat. Di ruang IRD lantai 3 kamar Roy 1. Kami naik lift dan menuju kesana. Di lantai 3 aku belum bisa menemukannya. Kami hampir salah masuk kamar yang ternyata itu ruang ICU. Aku bertanya lagi pada petugasnya. Tapi aku belum bisa menemuinya karena jam besuk sudah selesai dan harus menunggu nanti sore. Aku lemas.
          Di ruang tunggu itu aku menengok sekeliling berharap menemukan keluarganya ada di tempat itu. Dan ternyata benar, Allah mendengarkan doaku lagi. Aku melihat ibunya, aku menghampiri, ibunya langsung memelukku dan memintaku mendoakannya. Ibunya kaget melihatku bisa sampai disana. Tanpa banyak bicara aku langsung dintarkan untuk menemui kekasihku.
          Aku berjalan di belakang ibunya, sedikit takut karena sejauh mataku memandang hanya pasien luka yang ada di lantai itu. Kamar demi kamar ku lewati, pintu untuk kesana banyak sekali karena memang perawatan untuk pesien ortopedia harus steril dan tidak boleh banyak orang masuk kesana. Akhirnya aku sampai di depan kamarnya. Ibunya menunjuk arah paling pojok dari deretan pasien-pasien itu karena memang dia belum mendapatkan kamar. Setelah itu ibunya keluar.
          Aku berjalan perlahan menghampirinya. Ku lihat benar pesien di ranjang pojok dengan luka kakinya itu dia. Dia menatapku. Wajahnya tampak linglung mungkin dia tak percaya dan bermimpi aku disana. Tapi ini kenyataan aku sudah dihadapannya. Aku pun menatapnya. Keadaannya menyedihkan. Beberapa menit tak ada yang bicara dalam suasana itu. Tapi langsung seperti biasanya tak ada yang berbeda saat dia bicara. Langsung bertanya dan memarahiku kenapa aku kesana? Aku pun tidak terima, sudah jauh-jauh aku menjenguk kesana, eh malah begitu pertanyaannya. Atau mungkin dia hanya menyembunyikan perasaan senangnya aku bisa ada di hadapannya, dan agar air mataku tak jatuh melihatnya, jadi dia seperti itu.
          Dia langsung bertanya bagaimana aku kesana? Dengan siapa aku? Naik apa? Kenapa aku membohonginya karene aku berkata padanya kalau aku sekolah hari itu? Ku jawab semua pertanyaan itu satu per satu. Akhirnya dia menerima alasanku.
          Dia pun juga bercerita tentang kejadian malam itu. Sebenarnya dia akan menjemputku dan mengajakku untuk membeli sepatu sepak bola lagi, setelah itu jalan-jalan. Saat diperjalanan dia mendahului sebuah truk, sedang di depan truk itu ada motor, dan dia terjatuh. Sebenarnya dia sudah berdiri tapi truk yang tadi didahuluinya melaju dengan kecepatan tinggi. Akhirnya tak bisa dielak lagi bahwa truk itu menindasnya. Dia tersungkur di bawahnya. Dia menyelamatkan kepala dan badannya dari ban truk itu. Dia tiarap di bawah truk. Tapi kakinya sudah tak bisa dia singkirkan. Sesaat setelah itu dia menyeret badannya ke pinggir jalan agar selamat dari kendaraan berikutnya. Dalam keadaan kakinya yang sudah patah itu, dia mengambil handphonenya dan mengirim pesan padaku. Baru setelah itu dia menghubungi keluarganya. Aneh.
          Jam besuk hampir selesai, aku segera keluar kamar itu karena dua temanku masuk belum melihat keadaannya. Aku menemui keluarganya dan teman-temanku lagi. Buru-buru Iemb diantarkan masuk oleh budhenya dengan pura-pura mengantarkan air minum untuknya, agar diijinkan masuk. Hanya beberapa menit Iemb sudah keluar. Tapi saat tiba giliran Heny untuk melihatnya, perawat yang menjaga kamarnya sudah menutup pintunya saat Iemb keluar tadi, sehingga heny tidak bisa meelihat kaedaan kekasihku. Dan pintu akan kembali di buka sore nanti atau saat jam makan.
          Karena Iemb dan Heny takut pulang kemalaman, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang dahulu tanpa aku dan aku belum tega meninggalkannya pulang. Setelah berpamitan dengan aku dan keluarganya, lalu ibunya mengartarkan Iemb dan Heny mencari kendaraan menuju terminal. Heny hanya menitipkan salam untuk kekasihku karena dia tidak bisa menemui langsung. Sampai di bawah mereka langsung menemukan angkutan kota menuju terminal Bungurasih.
          Aku masih di ruang tunggu bersama budhe dan pakdhenya, setelah itu ibunya datang dari mengantar teman-temanku ke bawah tadi. Disana kami saling bercerita tentang kejadian malam itu. Lalu ibunya bertanya apakah aku sudah makan? Aku menjawab bahwa aku sudah makan saat di kereta tadi, tapi beliau menyuruhku makan bersama budhenya. Karena kekasihku sudah sms terus agar aku segera makan, maka aku turun dari lantai 3 untuk mencari makan bersama budhe dan pakdhenya, sedang ibunya tetap diatas untuk menjaga kekasihku.
          Kami kaluar dari lokasi rumah sakit dan membeli makan di depan rumah sakit. Kami makan lauk sambal terong dan tempe. Disana aku dan budhenya lebih saling mengenal, kami bercerita tentang kehidupan masing-masing, pakdhenya juga sesekali menambahkan obrolan. Aku bercerita tentang sekolahku, dimana rumahku, dan ternyata pakdhenya memahami setiap lokasi yang ku ceritakan. Tak terasa sampai selesai makan. Budhenya memesankan makanan untuk ibunya dan kami kembali ke rumah sakit lagi.
          Saat kembali, kami memutuskan untuk tidak naik lift tapi mencoba naik tangga saja. Lumayan capek juga naik tangga menuju lantai 3. Kami kembali duduk di ruang tunggu. Aku sangat berharap untuk bisa menemani kekasihku lagi, tapi tidak bisa dan saat itu dia sedang tidur.
12.33 dia mengirimkan sms padaku bahwa makan siangnya datang. Aku meminta ijin pada ibunya untuk menyuapinya tapi ibunya menemaniku masuk. Ibunya membantu menyiapkan makanan pasien di sebelah kekasihku agar tidak dimarahi perawat disana karena kekasihku ditemani dua orang. Setelah mencuci tangan aku mulai menyuapi kekasihku. Sayur dan daging sapi menu makan siangnya. Tak lama ibunya keluar meninggalkan kami.
Disana aku bisa menemaninya disaat hidupnya jatuh dalam keadaan yang sangat terpuruk. Berkali-kali kami bercanda, melepaskan rindu, dengan sesekali suapan nasi untuknya. Dia begitu bahagia melihatku berada disampingnya saat itu. Ku elus wajahnya yang selalu ceria dihadapanku. Diraihlah tanganku, dipegang erat-erat, bahasa tubuhnya yang kini begitu lemah, memintaku untuk tidak akan pernah meninggalkannya. Tak lepas kami saling bertatap mata, merasakan aliran cinta itu benar-benar ada diantara kami.
Sampai makan siangnya sudah habis aku masih disampingnya. Kuambilkan air minum dan makanan penutupnya, irisan buah melon untuknya. Kami masih bercanda disana, bercerita, tertawa, seperti biasa kami bertemu seperti tidak ada kejadian apa-apa.
Tapi setelah lelah mengobrol denganku, dia berkata padaku bahwa dia merasa mengantuk lagi. Aku mengerti ini pengaruh dari obat dan dia masih harus banyak istirahat. Sebelum aku meninggalkannya, dia memintaku mengompres dahinya yang masih demam. Ku ambilkan sapu tangan lalu ke celupkan air dan kuletakkan di dahinya. Dia meminta handphoneku untuk ditukar dengan handphonenya. Dia melakukan itu agar aku tidak pulang dulu. Dia ingin aku disana malam itu. Dia juga memintaku mengambil jaketnya di laci karena dia tahu aku tidak membawa jaket, katanya udara malam disana sangat dingin. Ku penuhi permintaannya, ku ambil jaket merahnya dalam laci disamping ranjangnya. Jaket merah itu jaket khas club sepak bolanya. Aku tahu dia begitu merindukan saat-saat bermain bola. Segera ku tinggalkan dia keluar kamar itu membawa handphonenya dan jaketnya.
Di ruang tunggu, aku bersama keluarganya menunggu ayahnya datang, karena setelah ayahnya datang kesana budhe dan pakdhenya akan pulang. Sekitar 1 jam lebih akhirnya ayahnya datang bersama pakpohnya. Beliau sudah tahu aku disana karena tadi diberitahu oleh ibunya. Seperti rencana, budhe dan pakdhenya akan segera pulang.
Aku sangat bingung saat itu, aku ikut pulang bersama budhenya atau pulang besok? Sebenarnya aku masih ingin disana menemaninya, tapi aku harus bersekolah. Budhenya menawari dan mengajakku untuk pulang bersamanya. Aku sms kekasihku yang ternyata tidak jadi tidur karena ada saudaranya yang menjenguknya lagi. Aku bertanya bolehkah aku pulang sore itu? Dengan berat hati dia mengijinkan. Dan akhirnya aku memutuskan untuk pulang sore itu bersama budhe dan pakdhenya.
Aku masuk kekamarnya untuk menukarkan handphoneku dengannya. Dengan sangat berat aku berpamitan dengannya. Disitu ada pakpohnya. Kami menukarkan handphone. Aku memintanya agar cepat sembuh dan dia memintaku agar hati-hati. Lalu cepat-cepat aku meninggalkannya disana karena aku sudah ditunggu budhenya di luar.
Ternyata budhenya belum berpamitan dengannya. Aku ikut masuk kembali saat budhenya berpamitan. Aku ingin melihatnya untuk yang terakhir sebelum aku pulang. Ku sodorkan tanganku untuk berjabatan tangan, tapi dia menolak, dia tak mau aku berpamitan pulang. Karena aku benar-benar akan pulang, akhirnya dia mengerti dan mau menjabat tanganku. Aku berkata lagi agar dia cepat sembuh setelah itu aku berjalan keluar. Ke tengok lagi, dia menatap kepergianku berat. Aku tak tega melihatnya, tapi aku harus pulang.
Ku berjalan semakin jauh dari dia yang berbaring. Keluar dari ruangannya, turun ke lantai bawah kembali melewati tangga, dan keluar dari rumah sakit. Budhe dan pakdhenya memutuskan untuk pulang ke Kediri naik kereta api. Untuk mencapai ke stasiun yang masih jauh, aku dan budhenya diberi tumpangan oleh keluarganya dari mojokerto yang juga habis menjenguk dan membawa motor. Jadi aku, keluarganya itu, dan budhenya naik motor bertiga. Uch, rasanya aku mau jatuh dari motor itu karena aku di belakang. Sedangkan pakdhenya masih tertinggal di belakang dan dijemput kembali oleh keluarganya setelah mengantarkan aku dan budhenya. Sehingga kami semua sampai di stasiun pukul 15.13.
Budhe dan pakdhenya akan turun di stasiun Jombang sedangkan aku turun di stasiun Kediri, jadi tiketnya berbeda. Setelah menunggu lama akhirnya pukul 16.00 tepat kereta datang. Aku segera berlari dan naik kereta. Pakdhe dan budhenya masih di belakang. Kami bertemu di dalam kereta. Berdesak-desakan, jadi aku mencari tempat duduk sendiri dan kami sudah terpisah.
Di kereta, aku mengantuk dan takut sekali ketiduran karena aku sangat capek. Jadi aku meminta untuk ditemani sms.an terus agar aku tidak tidur disana. Saat itu aku bertemu dengan seorang anak laki-laki kecil berumur sekitar 5 tahun yang baru keluar dari rumah sakit karena sakit step. Anak bersama kedua orang tuanya itu duduk di depanku. Sedangkan disampingku seorang lelaki paruh baya bersama anak perempuannya yang menangis terus kira-kira berumur 4 tahun. Aku merasa sangat iba pada mereka karena ternyata ibu dari anak itu menderita penyakit tumor yang sekarang masih dirawat di rumah sakit yang sama.
Hatiku terenyuh, masih banyak orang yang kisahnya lebih menyakitkan daripada aku. Stasiun demi stasiun terlewati, sampai di stasiun Jombang Budhe dan Pakdhenya turun. Aku berpamitan dengan mereka. Anak kecil yang sakit step itu turun di stasiun Minggiran. Tinggal bapak dengan anak perempuannya karena mereka turun di stasiun Kras. Kereta semakin sepi. Aku bertanya-tanya ada seorang bapak yang turun di stasiun Kediri, jadi aku agak lega tidak terlewat stasiunnya.
19.41 sampai di stasiun Kediri Kota. Aku turun dari kerata. Gelap, berbeda dengan tadi pagi saat aku berangkat. Aku kebingungan mencari Indah yang sudah menungguku disana sudah lumayan lama. Aku berkeliling stasiun. Ternyata Indah menunggu di depan pintu masuk stasiun. Aku menemukannya dalam kegelapan. Indah sangat kwatir denganku. Indah meminjam motor temannya dan kami langsung pulang menuju kost. Alhamdulillah aku sampai dengan selamat.
Setiap hari, aku selalu menemaninya dengan selalu sms dengannya saat dia terjaga, meskipun itu tengah malam sekalipun. Aku tak tega membiarkannya sendiri dengan sakit yang dirasakannya. Bahkan pada suatu dini hari 29 Mei pukul 02.30 dia menelfonku, dan dia memintaku untuk mendekatkan handphoneku pada layar televisi karena pada saat itu tim sepakbola kesayangannya sedang bertanding dan jelas dia tidak dapat menyaksikan siaran langsung itu. Aku pun memenuhi permintaannya. Ku dekatkan handphoneku pada televisi, tapi tentu saja dia hanya dapat mendengar suaranya dan tak begitu jelas. Akhirnya dia putus asa karena tak dapat mengikuti jalannya pertandingan itu. 03.06 dia memintaku menutup telfonnya serta tidak mennganggunya malam ini setelah dia sempat mengatakan tak mau lagi mengenal bola.
Selama tiga belas hari di RS dr. Soetomo Surabaya, kekasihku tak kunjung mendapatkan penanganan lebih lanjut. Operasinya yang kedua tak juga dilakukan dan jadwalnya terus ditunda-tunda. Aku mendengar kabar darinya yang sangat menyakitkan bahwa kaki kanannya akan diamputasi karena ada hewan pembusuk dalam lukanya. Aku menangis lagi seketika, padahal saat itu dalam keadaan aku sedang semester akhir. Ya Allah… jangan tambah lagi ujian yang Kau berikan padannya. Ini terlalu berat bagi kami. Apakah dia memang harus kehilangan satu kakinya? Apakah tak ada cara lain untuk menyelamatkannya?
Allah mendengar doa kami. Keluarganya mengusahakan untuk memindahkannya ke rumah sakit lain agar segera dilakukan operasinya yang kedua. Akhirnya pada malam hari ke-15 di rumah sakit dr. Soetomo, kekasihku dipindah ke RS HVA Tulungrejo Pare. 07 Juni pukul 19.18, kembali dia memberiku kabar lewat pesan singkat yang dikirimkannya bahwa dia telah dipindah rumah sakit. Dia tau aku tersenyum. Tak berhenti aku mendoakannya agar dia segera ditangani.
Setalah pemindahannya di RS HVA Tulungrejo Pare, esok paginya langsung dilakukan operasi kakinya yang kedua. Masih terus berdoa, bahkan aku malah memilih sering menyendiri daripada aku bersama teman-temanku seperti biasanya. Dan hampir setiap hari aku ke rumah sakit untuk menemaninya karena saat itu aku sudah selesai ujian semester sehinnga sudah hari bebas aku banyak menghabiskan waktuku untuk menemani kesasihku. Orang tuanya terutama ibunya, terlihat senang jika aku temani disana karena mereka bisa beristirahat sementara aku menemaninya.
Terdapat infuse di tangannnya dan selang yang mengalirkan darah kotor sisa operasi dipasang pada kaki kanannya. Aku tau itu sangat sakit, tapi dia tak pernah menunjukkkan rasa sakitnya itu padaku. Dia selalu tersenyum padaku setiap aku disana dan tak mau membuatku sedih. Malah ibunya yang menceritakannya padaku bahwa pada malam hari dia mengerang kesakitan hingga menangis karena rasa sakit yang dia rasakan di kakanya. Aku sedih melihat keadaannya saat itu.
Aku berangkat pagi dan pulang siang untuk menemaninya. Meski aku ingin terus disana tapi kekasihku tak mau merasa membebaniku, dia memintaku untuk istirahat saja dirumah, tapi aku tetap suka kesana. Kadang aku membawakan makanan kesukaannya atau membawakan makanan buatanku sendiri. Aku senang melihat dia menikmatinya. Dan pada saat aku disana teman-temanku juga menjenguknya menjenguknya. Iemb, Selvi, Heny, Ratna dan aku tak tau sebelumnya akan kedatangan mereka. Setelah menjenguk kekasihku, teman-temanku mengajakku jalan-jalan, dan untuk kesekian kalinya aku menolak dan memilih tetap menemani kekasihku.
Lima belas hari di RS HVA Tulungrejo Pare, keadaannya semakin membaik dia diperbolehkan untuk rawat jalan dirumah. Aku semakin senang mendengarnya. Meski telah pulang, namun dia belum diperbolehkan untuk menggunakan kakinya. Setelah operasinya yang kedua, pada kaki paha kanannya patah terdapat gips untuk menyambungnya, dan pada betisnya terdapat daging buatan untuk menutup lubang kakinya akibat tertindas ban truk. Keadaan kaki kirinya tak separah kaki kanannya tapi juga belum berfungsi.
Berhari-hari, bahkan berminggu-minggu hanya terbaring di tempat tidur. Menunggu pemulihan kakinya tetap dilakukan perawatan secara rutin. Setelah tulang belakangnya telah kuat, dia diperbolehkan duduk. Sesekali duduk di kursi roda untuk ke teras rumah. Aku biasa datang menjenguknya pada hari minggu karena aktivitas sekolahku sudah berjalan padat karena aku di kelas XII.
Berganti minggu, berganti bulan, perlahan-lahan dia mulai bisa menggerakkan kakinya. Tekatnya sangat kuat untuk bisa berjalan bahkan berlari kembali untuk menendang bola. Karena dia sadar bahwa dia masih sangat begitu mencintai bola meskipun dengan keadaannya saat itu. Setiap hari dia berlatih berjalan dengan menggunakan alat bantu. Dan masih setia pada hari minggu aku menemaninya berlatih berjalan.

Empat bulan kemudian,
03 November 2011, sungguh suatu sore yang begitu cerah. Aku bingung untuk mengungkapkannya. Aku pun tak tau apakah sore itu aku sedang bermimpi atau tidak. Sumpah, dia datang dihadapanku. Benar! Aku tak bohong. Berkali-kali aku mengedipkan mata, aku tidak bermimpi. Dia naik motor merahnnya dengan jaket merah dan celana pendek, serta bebal pada betis kaki kanannya. Sebelumnya dia melarangku pergi makan sore itu, ternyata itu, agar aku ada di kost saat dia datang. Itulah anugerah Tuhan. Kejutan yang membuatku takut melangkah, bergetar kaki dan tanganku melihatnya menemuiku sore itu. Aku masih diam ditempat. Tak bergerak. Dia turun dari motornya dan menghampiriku. Dia mencubit pipiku untuk meyakinkanku bahwa aku tidak bermimpi.
Dan biarkan aku bahagia…


- the end -

                                                                           
                                                                              
 
  by : gendhuk bella

2 komentar: